Jumat, 08 Desember 2006 13:49:08
Pariwisata
Jatuh Bangun di Tengah Bencana Tsunami
Kategori: Pangandaran (406 kali dibaca)
Dalam bisnis apa pun, termasuk pariwisata, risiko adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Risiko usaha dapat muncul dari internal ataupun eksternal. Sebuah risiko internal sebenarnya dapat diminimalkan, bahkan dihindari, apabila perencanaan usahanya matang.
Sementara risiko eksternal seperti perubahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan kenaikan harga-harga relatif lebih pelik diantisipasi karena menyangkut kebijakan pemerintah dan situasi keuangan global.
Namun, dari semua itu sebenarnya ada satu hal yang tidak dapat diprediksi secara pasti oleh semua orang, yaitu bencana alam. Masih lekat dalam ingatan pelaku usaha wisata di wilayah pesisir, bagaimana bencana gempa bumi yang disusul tsunami telah memorak- porandakan pantai dengan segala potensinya. Dua tahun terakhir telah terjadi dua kali tsunami, di Aceh pada 26 Desember 2004 dan di pesisir selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat pada 17 Juli 2006.
Akibat dari bencana tersebut sangat jelas, yakni kerugian baik material maupun imaterial. Namun, saat ini dapat kita lihat hotel- hotel yang hancur terkena tsunami di Pangandaran, Kabupaten Ciamis, sudah mulai beroperasi lagi. Begitu pun dengan rumah makan ikan lautnya di Talanca, pantai timur Pangandaran, yang terkenal itu.
Denyut wisata di Pangandaran yang terkena imbas tsunami Aceh akhir 2004 mulai bangkit perlahan. Lebih dari satu tahun diperlukan Pangandaran untuk "menarik napas". Hasilnya dapat dilihat pada 14-16 Juli lalu, saat hari terakhir liburan sekolah. Selama tiga hari itu pantai barat Pangandaran dipadati pengunjung. Apalagi, saat itu ada Festival Layang-layang Pangandaran 2006 yang diiikuti tak kurang dari lima negara asing.
Hotel di Pangandaran harus menghadapi dua beban sekaligus. Pertama, perlu biaya untuk merehabilitasi bangunan hotel yang rusak bahkan hancur. Kedua, mereka pun membutuhkan dana operasional hotel selama tingkat hunian masih sepi usai bencana hingga kondisi wisata Pangandaran pulih.
Tsunami Pangandaran ternyata juga berimbas pada pariwisata di Kabupaten Garut. Sekretaris PHRI Garut Asep Irfan Setiawan, Kamis (7/12), mengungkapkan, dua bulan sejak tsunami terjadi di Pangandaran, tingkat kunjungan wisata menurun 10-20 persen daripada biasanya. Padahal, Pangandaran-Garut terpaut jarak sedikitnya 150 kilometer.
Kehancuran infrastruktur wisata pun terjadi di Pantai Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Dua obyek wisata pantai, yakni Pantai Cipatujah dan Sindangkerta, mengalami kerusakan yang tidak kecil. Bukan tidak mungkin tingkat kunjungan wisata di kedua pantai itu akan melorot. Inilah pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya ke depan.
Mulai menggeliat
Sekretaris PHRI Ciamis Yos Rosbi mengatakan, perlahan tetapi pasti pelaku usaha di Pangandaran mulai bangkit. Berbagai kemudahan diberikan, seperti penjadwalan ulang kewajiban pemilik hotel kepada bank dan pajak yang untuk sementara tidak dipungut.
Pariwisata Pangandaran pun mulai menggeliat. Sekarang sudah banyak hotel dan restoran yang buka kembali. Bahkan pada Lebaran lalu Pangandaran banyak dikunjungi wisatawan. "Rumah makan seafood saya yang hancur sudah saya perbaiki dengan modal sendiri hasil pinjam dari sana-sini," kata Dedi, pemilik rumah makan seafood Risma yang terletak di pantai timur Pangandaran.
Sayangnya, menjelang Natal dan pergantian tahun 2006-2007 nanti lagi-lagi risiko kerugian harus dihadapi pelaku usaha di Pangandaran. Sedikitnya dua kali gempa yang terjadi di barat daya Tasikmalaya berkekuatan sekitar 5 skala Richter dalam beberapa bulan terakhir mengerem gairah wisata Pangandaran yang mulai bangkit.
Pemberitaan di media massa tentang gempa, kata Ake, pemilik resor Laut Biru di pantai barat Pangandaran, sangat memukul harapan para pelaku usaha di sana. Tidak jarang calon wisatawan yang telah memesan hotel tiba-tiba membatalkannya karena mendapat informasi telah terjadi gempa di wilayah Priangan timur. Padahal, gempa tersebut tidak terasa sampai Pangandaran.
Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila menjelang Natal dan Tahun Baru nanti tingkat pemesanan kamar hotel tidak beranjak dari angka 20 persen. Calon wisatawan banyak yang mengalihkan liburannya ke Bali atau Malaysia. Harapan pelaku usaha "mendulang emas" saat pergantian tahun pun masih samar-samar.
"Masyarakat masih trauma datang ke Pangandaran. Yang trauma bukannya penduduk Pangandaran, tetapi tamunya," Yos menambahkan.
Walaupun risiko rugi sudah diambang mata, Ake tetap optimistis hotel di Pangandaran akan ramai saat memasuki fajar baru 2007. Akan sia-sia jatuh bangunnya para pelaku usaha yang tetap optimistis apabila pemerintah daerah tidak menindaklanjuti dengan aksi nyata.
Pembenahan infrastruktur wisata dan promosi adalah langkah minimal yang mesti dilakukan pemerintah daerah. Bukankah wisata Pangandaran selama ini menyumbang pendapatan asli daerah cukup besar bagi Kabupaten Ciamis?(Adhitya Ramadhan)
Sumber: Kompas
Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *
