AirPutih

Organisasi non Pemerintah yang mendorong masyarakat agar melek Teknologi Informasi dan Komunikasi, dan menjadikannya alat (TIK) untuk mewujudkan masyarakat yang kuat di Indonesia.

Sejarah

AirPutih merupakan sebuah komunitas praktisi teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis pada kerelawanan, lahir pada masa darurat pasca terjadinya bencana alam besar Tsunami (Gelombang Pasang) di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Dua hari setelah gempa bumi dahsyat di Samudera Hindia, lepas pantai barat Nanggroe Aceh Darrusalam. Gempa ini mempunyai kekuatan 9,3 skala richter dimana gempa bumi ini merupakan gempa bumi paling dahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir yang menghantam Asia Tenggara dan Asia Selatan, Dan gempa bumi ini membuat gelombang Tsunami yang gelombangnya sampai ke beberapa negara salah satunya adalah Srilanka dan menelan korban jiwa lebih dari 126.000 serta kerugian materil yang sangat besar di Nanggroe Aceh Darussalam.

Perkembangan

Organisasi sebagai alat dalam arti abstrak untuk merealisir, apa yang menjadi keputusan strategik yang ditetapkan, maka maupun tidak harus mengikuti atas perubahan lingkungan yang digerakkan oleh kekuatan kepemimpinan untuk hidup dan bertahan dalam abad 21, oleh karena itu, organisasi sebagai alat dimanifestasikan terutama dalam hubungan dua faktor yang disebut dengan fleksibilitas disatu sisi dan disisi lain adalah dapat tidaknya dikontrol. Hal itu laksana perbedaan antara seorang bayi dan orang yang lebih tua. Bayi itu sangat fleksibel dan dapat memasukkan jari kakinya kedalam mulutnya, namun gerakan-gerakan dan perilakunya agak sulit dikontrol. Dengan meningkatnya usia kita akhirnya seseorang yang lebih tua juga akan kehilangan sifatnya yang dapat dikontrol.

Sekretariat AirPutih Jakarta

Jl. Monumen Pancasila Sakti No.69, RT.9/RW.2, Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13810