Sabtu, 8 Januari 2005, 23:42 WIB --
Tsunami, karakteristik dan Pencegahannya
Tsunami diadopsi dari bahasa Jepang, dari kata tsu (Ã) yang berarti
pelabuhan dan nami (g) yang berarti ombak. Dahulu kala, setelah
tsunami terjadi, orang orang Jepang akan segera menuju pelabuhan
untuk menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan akibat tsunami, sejak
itulah dipakai istilah tsunami yang bermakna gelombang pelabuhan. Selama ini tsunami masih dianggap bencana alam yang tidak
membahayakan (underrated hazard), karena kedatangannya yang cukup
jarang. Banyak penyebab terjadinya tsunami, seperti gempa bawah laut
(ocean-bottom earthquake), tanah longsor bawah laut (submarine
landslide), gunung berapi (volcano), dan sebab lainnya. Diantara
penyebab itu, gempa bumi bawah lautlah yang paling sering dan paling
berbahaya. Longsor bawah laut dengan ukuran longsor sebesar benua
juga berbahaya, tapi efektifitas tsunami akibat longsor bawah laut
masih jauh di bawah efektifitas tsunami akibat gempa bumi.
Tidak semua gempa menghasilkan tsunami, hal ini tergantung beberapa
faktor utama seperti tipe sesaran (fault type), kemiringan sudut
antar lempeng (dip angle), dan kedalaman pusat gempa (hypocenter).
Gempa dengan karakteristik tertentu akan menghasilkan tsunami yang
sangat berbahaya dan mematikan, yaitu:
1) Tipe sesaran naik (thrust/ reverse fault), seperti terlihat pada
gambar 1.
Tipe ini sangat efektif memindahkan volume air yang berada diatas
lempeng untuk bergerak sebagai awal lahirnya tsunami.
2) Kemiringan sudut tegak antar lempeng yang bertemu.
Makin tinggi sudutnya (mendekati tegak lurus), makin efektif tsunami
yang terbentuk.
3) Kedalaman pusat gempa yang dangkal (7.0R) dan dangkal, tetapi kalau tipe sesarnya bukan naik, namun
normal (normal fault) atau sejajar (strike slip fault), bisa
dipastikan tsunami akan sulit terbentuk. Gempa dengan kekuatan 7.0R,
dengan tipe sesaran naik dan dangkal, bisa membentuk tsunami dengan
ketinggian mencapai 3-5 meter.
Tsunami bisa merambat ke segala arah dari sumber asalnya dan bisa
melanda wilayah yang cukup luas, bahkan didaerah belokan, terlindung
atau daerah yang cukup jauh dari sumber asal tsunami. Ada yang
disebut tsunami setempat (local tsunami), yaitu tsunami yang hanya
terjadi dan melanda disuatu kawasan yang terbatas. Hal ini terjadi
karena lokasi awal tsunami terletak disuatu wilayah yang sempit atau
tertutup, seperti selat atau danau.
Ada juga yang disebut tsunami jauh (distant tsunami), hal ini karena
tsunami bisa melanda wilayah yang sangat luas dan jauh dari sumber
asalnya. Seperti yang pernah terjadi di Chili pada 22 Mei, 1960
akibat dipicu gempa dengan kekuatan lebih dari 8.0R. Tsunami ini
menyebabkan korban jiwa dan kerusakan parah di Chili, Jepang, Hawaii,
dan Philipina. Gelombang tsunami ini mencapai pantai Jepang setelah
menempuh perjalanan selama 22 jam dan menewaskan 150 orang di Jepang.
Kecepatan tsunami tergantung dari kedalaman air. Di laut dalam dan
terbuka, kecepatannya mencapai 800-1000 km/ jam. Ketinggian tsunami
di lautan dalam hanya mencapai 30-60 cm, dengan panjang gelombang
mencapai ratusan kilometer, sehingga keberadaan mereka di laut dalam
susah dibedakan dengan gelombang biasa, bahkan tidak dirasakan oleh
kapal-kapal yang sedang berlabuh di tengah samudra. Berbeda dengan
gelombang karena angin, dimana hanya bagian permukaan atas yang
bergerak; gelombang tsunami mengalami pergerakan diseluruh bagian
partikel air, mulai dari permukaan sampai bagian dalam samudra.
Ketika tsunami memasuki perairan yang lebih dangkal, ketinggian
gelombangnya meningkat dan kecepatannya menurun drastis, meski
demikian energinya masih sangat kuat untuk menghanyutkan segala benda
yang dilaluinya. Arus tsunami dengan ketinggian 70 cm masih cukup
kuat untuk menyeret dan menghanyutkan orang.
Tsunami di Samudra Hindia
Indonesia merupakan negara rawan akan tsunami, yaitu berada diurutan
ketiga di dunia setelah Jepang dan Amerika. Wilayah yang paling
sering dilanda tsunami sebenarnya adalah negara-negara di kawasan
Lautan Pasifik, karena adanya �gPacific ring of fire�h. Di Indonesia,
tsunami sangat rawan terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Tsunami yang terjadi di Samudra Hindia tanggal 26 Desember 2004 ini
memang cukup mengejutkan, meski dari pergeseran lempeng Indo-
Australia dan Eurasia yang selama ini diteliti, mestinya sudah bisa
diprediksi bakal ada gempa besar. Tiga rangkaian gempa besar telah
terjadi di zone pertemuan antara dua lempeng Indo-Australia dan
lempeng Eurasia. Gempa pertama dengan kekuatan 8.9R terjadi pada
pukul 07.58.50 di wilayah perairan NAD. Gempa kedua dengan kekuatan
5.8R terjadi pada pukul 09.15.57 di wilayah Nicobar. Sedangkan gempa
ketiga terjadi dengan kekuatan 6.0R pada pukul 09.22.01 di kepulauan
Andaman.
Dari data gempa diatas bisa dipastikan bahwa gempa pertama dengan
kekuatan 8.9R merupakan penyebab utama tsunami yang menghancurkan di
pesisir barat Sumatra ke arah NAD, Thailand, India juga Sri Lanka.
Gempa susulan dengan kekuatan 5.8R dan 6.0R tidak cukup signifikan
untuk melahirkan tsunami, meski tipe sesarnya naik dan dangkal.
Melihat perbedaan waktu terjadinya, gempa-gempa susulan ini bisa
menimbulkan tsunami susulan, tetapi tidak akan lebih besar dari
tsunami yang datang pertama. Dari posisi sumber gempa pertama (8.9R),
kedatangan gelombang tsunami di wilayah pesisir barat Sumatra akan
cenderung membentuk gelombang tepi (edge wave). Gelombang tsunami
jenis ini bergerak sejajar atau paralel dengan garis pantai, meski
sifatnya juga merusak, tetapi kerusakan akan lebih parah terjadi bila
kedatangan gelombang tsunami cenderung tegak lurus kearah pantai.
Banyaknya korban di Sri Lanka bisa jadi disebabkan karena energi
tsunami yang memang cenderung utuh sejak terbentuknya, juga karena
kedatangan gelombang tsunami di Sri Lanka lebih tegak lurus ke arah
pantai. Meski kemungkinan gempa susulan masih ada, tetapi kemungkinan
datangnya tsunami susulan akan lebih kecil. Bahkan dengan kekuatan
dan kondisi gempa yang sama, tsunami yang terbentuk akan lebih kecil
daripada tsunami yang terjadi pertama kali.
Kerusakan akibat tsunami
Energi tsunami bisa mencapai 10% dari energi gempa pemicunya. Bisa
dibayangkan, gempa dengan kekuatan mencapai 9.0R akan menghasilkan
energi yang setara dengan lebih dari 100.000 kali kekuatan bom atom
Hiroshima, Jepang. Bentuk pantai, bentuk dasar laut wilayah pantai,
sudut kedatangan gelombang, dan bentuk depan gelombang tsunami yang
datang ke pantai akan sangat berpengaruh terhadap kerusakan yang
ditimbulkan. Karena beberapa alasan ini, sebagian pantai akan dilanda
tsunami dengan tingkat kerusakan dan ketinggian arus yang berbeda
dibanding pantai yang lain, meski letaknya tidak terlalu berjauhan.
Daerah teluk akan menderita tsunami lebih parah akibat konsentrasi
energi tsunami. Korban meninggal akibat tsunami terjadi biasanya
karena tenggelam, terseret arus, terkubur pasir, terhantam serpihan
atau puing, dan lain lain.
Usaha Meringankan Bahaya Tsunami
Banyaknya korban jiwa karena tsunami disebabkan banyak faktor seperti
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gempa dan tsunami,
terbatasnya peralatan, peramalan, peringatan dan masih banyak lagi.
Untuk mengurangi bahaya bencana tsunami diperlukan perhatian khusus
terhadap 3 hal yaitu:
1. Struktur Pantai (Coastal Structures)
2. Penatataan Wilayah (City Planning)
3. Sistem yang terpadu (Tsunami Prevention System)
1. Struktur Pantai
Didaerah pantai dimana gempa biasa terjadi sebaiknya dibangun
struktur bangunan penahan ombak berupa dinding pantai (sea wall or
coastal dike) yang merupakan bangunan pertahanan (defense structure)
terhadap tsunami. Struktur ini akan efektif, bila ketinggian tsunami
relatif tidak terlalu tinggi. Jika ketinggian tsunami melebihi 5
meter, prasarana ini kurang begitu berfungsi. Pohon-pohon pantai
seperti tanaman bakau (mangrove) juga cukup efektif untuk mereduksi
energi tsunami, terutama untuk tsunami dengan ketinggian kurang dari
3 meter.
2. Penataan Wilayah
Korban terbanyak bencana tsunami adalah perkampungan padat didaerah
pantai disamping daerah wisata pantai. Cara paling efektif mengurangi
korban bahaya tsunami adalah dengan memindahkan wilayah pemukiman
pantai ke daerah bebas tsunami (tsunami-free area). Menurut catatan,
sudah banyak peristiwa tsunami yang menyapu habis pemukiman nelayan
disekitar pantai, mereka terperangkap dan tidak sempat menyelamatkan
diri ketika tsunami datang. Kedatangan tsunami yang begitu cepat
sangat tidak memungkinkan penduduk didaerah pesisir pantai untuk
meloloskan diri.
3. Sistem Yang Terpadu
Sistem pencegahan tsunami (tsunami prevention system) akan meliputi
hal hal sebagai berikut: peramalan, peringatan, evakuasi, pendidikan
masyarakat, latihan, kebiasaan untuk selalu waspada terhadap bencana,
dan kesigapan pasca bencana.
Kedatangan tsunami sama dengan kejadian gempa itu sendiri, masih
sulit diprediksi. Pemasangan seismograp bawah laut (ocean-bottom
seismograph) akan memberikan data cukup detail tentang data seismik
yang akan berguna untuk memprediksi apakah tsunami akan terbentuk
dari kejadian seismik tersebut atau tidak. Peringatan awal akan
datangnya tsunami akan memberikan peluang kepada masyarakat didaerah
rawan untuk mengadakan persiapan penyelamatan diri. Memang tidak
setiap gempa bumi akan mendatangkan tsunami, tetapi sikap atau
kebiasaan untuk selalu waspada terhadap bencana tsunami sebaiknya
selalu melekat di setiap masyarakat. Ketika Anda berada di pantai dan
merasakan adanya getaran gempa, segeralah lari ke arah dataran yang
tinggi (minimal 20 meter) sekencang- kencangnya!!! Jangan pernah
menunggu tsunami datang. Ketika Anda melihat tsunami datang dalam
jarak dekat didepan mata, bisa dipastikan Anda berpeluang kecil untuk
selamat. Air laut yang surut tiba-tiba atau kadang kala sebelum
tsunami datang, suara seperti ledakan bom yang memekikkan datang dari
arah laut, ini juga pertanda bahwa Anda harus segera meninggalkan
pantai tanpa harus menunggu. Kedatangan tsunami yang bisa beberapa
kali dengan selang kedatangan bisa mencapai beberapa jam sangat
membahayakan masyarakat yang berdatangan ke pantai setelah kedatangan
gelombang tsunami yang pertama. Hal ini mesti dihindari.
Pemasangan sirine atau pengeras suara di pantai-pantai yang sering
dipadati oleh kunjungan masyarakat akan sangat efektif untuk
memberikan peringatan dini kepada pengunjung akan bahaya tsunami
begitu getaran gempa terasa. Pemasangan papan pengumuman �gdaerah
rawan tsunami�h atau �gawas tsunami!!!�h di pantai-pantai, di daerah
rawan tsunami akan mengingatkan masyarkat yang berada di daerah
tersebut. Pembangunan tugu peringatan bahwa tsunami pernah terjadi
didaerah tersebut akan mengingatkan orang bahwa dia berada didaerah
rawan tsunami dan harus selalu waspada.
Pendidikan ke masayarakat tentang bahaya gempa dan tsunami menjadi
sangat penting. Tidak semua orang punya pengalaman dengan tsunami
sepanjang hidupnya. Dan untuk selamat dari bencana tsunami, seseorang
tidak harus pernah punya pengalaman dengan tsunami. Jika seseorang
punya pengetahuan sederhana tentang kedatangan tsunami, begitu gempa
datang, segera dia akan menyelamatkan diri ke arah dataran tinggi dan
selamatlah dia. Pengetahuan ini sebaiknya ditransfer ke masyarakat
sekitar dan juga generasi berikutnya. Di wilayah Sanriku- Jepang,
yang merupakan daerah paling rawan tsunami di dunia, setiap tahun
diadakan latihan untuk memperingati tsunami yang telah menelan ribuan
korban didaerah itu. Dengan kegiatan demikian diharapkan kesadaran
masyarakat akan adanya bahaya tsunami selalu meningkat.
Demikianlah upaya untuk mengurangi korban bencana akibat tsunami.
Keberhasilan upaya ini akan meminimalkan korban bencana tsunami
secara signifikan seperti yang terjadi di negara-negara maju seperti
Jepang atau Amerika.
Tinggalkan komentar
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *
