Search

Tentang Sumbangan dan Relawan

Senin, 3 Januari 2005, 02:02 WIB -- Tentang Sumbangan dan Relawan  Malam ini adalah malam kedua buat saya di Aceh. Seperti sudah pernah disampaikan beberapa teman yang lain sebelumnya di forum ini, saya berangkat ke Aceh, sebagai koordinator dari sebuah taskforce yang dibentuk sebagai kerjasama beberapa asosiasi IT dan media, seperti APJII, AWARI, INDOWLI, FTII, Pena Indonesia. Tujuan dari keberangkatan tim ini ke Aceh adalah untuk membantu pemulihan Aceh dan penanganan korban, dengan berusaha memfungsikan internet bagi lembaga terkait (wartawan, PMI, posko). Cukup banyak usulan membuka dompet sumbangan, bahkan terakhir ada yg meminta untuk pengumpulan relawan. Tidak ada yang salah dari semua usulan itu, tapi mungkin perlu diketahui, bahwa distribusi sumbangan dan relawan tidak semudah dugaan orang. Untuk sumbangan, sebaiknya disalurkan ke media yang sudah memiliki jalur masuk ke Aceh. PMI adalah salah satu lembaga yang bisa dipercaya. Mereka mengirimkan relawan cukup banyak di Aceh ini. Saya taksir, sampai mendekati angka 1000 orang, dari berbagai propinsi. Sumbangan sebaiknya diwujudkan dalam bentuk uang, karena kebutuhan di Aceh akan berubah dari waktu ke waktu. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah obat-obatan, yang kita orang awam akan sulit tahu dan mendapatkan barangnya. Pemberian sumbangan dalam bentuk barang, kadang malah merepotkan, contoh yang paling nyata, adalah sumbangan mie instan. Harga kebergunaan barang, jauh lebih murah ketimbang ongkos kirimnya. Indomie hanya akan membuat penuh gudang penampungan di Jakarta. Baju bekas, juga cukup menyulitkan, karena masih harus disortir secara manual. Lain halnya kalau diwujudkan uang, lembaga terkait tinggal membeli ke pabrik dengan ukuran yang sama setiap boxnya, juga jenisnya (laki atau perempuan), sehingga mudah saat pembagian di lapangan. APJII sendiri, membuka dompet sumbangan, yang akan difungsikan lebih sebagai support untuk tim airputih ini. Jika Anda memiliki akses ke perangkat2 networking atau komputer, dan ingin menyumbangkan perangkat, coba hubungi sekretariat tim kami di Jakarta.  Sedangkan untuk relawan, jelas sangat dibutuhkan. Tapi, mutlak bahwa mereka punya spresialisasi. Misalnya, punya kemampuan SAR/palang merah. Mereka harus mampu bertahan untuk tetap bekerja dalam kondisi yang buruk. Logistik untuk tim relawan tidak bisa dijamin akan selalu baik. Makan dengan nasi dan sayur hambar, sudah merupakan suatu kemewahan tersendiri. Tahu dan tempe adalah lauk yang mewah. Beruntung, saya berangkat bersama tim yang cukup bisa survive di lapangan. Sebagian dari mereka punya dasar SAR. Selain itu, sesuai dengan misi tim saya ke Aceh, mereka pun punya kemampuan networking yang baik, dalam kondisi perangkat yang paling minim sekalipun. Kami sudah berhasil melakukan pointing ke satelit dengan VSAT mini (diameter 1,2 meter) tanpa menggunakan spektrum meter. Bukan hal yang mudah, untuk teknisi yang sudah terbiasa dengan alat bantu ukur yang mewah. Kalau Anda memang berminat untuk jadi relawan, dan ingin ikut membantu jika ada bencana seperti ini, masuklah PMI, atau tim SAR. Pelajari lebih dahulu dasar2 SAR. Bukan berharap, tapi bencana bukan tidak mungkin terjadi lagi. Dan saat itu mungkin kita bisa jadi orang yang berguna secara langsung. Salam dari Aceh, yang sedang berduka. (Valens)
Air Putih

Air Putih

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy