Search

Peningkatan Status Kegiatan G. Karangetang Dari Status SIAGA ke AWAS

Bersama ini kami sampaikan dengan hormat hasil evaluasi kegiatan G. Karangetang di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara sebagai berikut; I. PENDAHULUAN Gunungapi Karangetang yang dikenal juga sebagai G. Api Siau merupakan sebuah pulau gunungapi dan berada di bagian utara P. Siau termasuk kedalam kabupaten Sitaro yang berjarak sekitar 146 km dari kota Manado. Secara geografis G. Karangetang terletak pada posisi 02 47’ Lintang Utara dan 125 29’ Bujur Timut, dengan tinggi puncak sekitar 1827 m di atas permukaan laut. Gunungapi tersebut dipantau secara menerus dari Pos Pengamatan Gunungapi di Desa Salili. Sejak 11 Maret 2011 kegiatan G. Karangetang mengalami peningkatan status dari WASPADA (Level II) menjadi SIAGA (Level III) didasarkan pada peningkatan aktifitas kegempaan dan potensi ancaman yang tinggi dari awan panas guguran terhadap masyarakat di lereng G. Karangetang. I. KEGEMPAAN Aktivitas kegempaan G. Karangetang dalam periode Januari - Maret 2011 sebagai berikut : 12 Maret 2011 : 5 kali gempa Hembusan, 1 gempa Vulkanik A, 3 gempa Vulkanik B, 99 gempa Guguran. 13 Maret 2011 : 14 gempa Tektonik Jauh, 2 gempa Vulkanik B, 94 kali gempa Guguran, 2 gempa Hembusan. 14 Maret 2011 : 8 Gempa Tektonik Jauh, 2 gempa Vulkanik A, 8 gempa Vulkanik B, 1 gempa Hembusan, dan 36 gempa Guguran. 15 Maret 2011 : 2 gempa Tektonik Jauh, 22 gempa Guguran. 16 Maret 2011 : 2 gempa Tektonik Jauh, 9 gempa Guguran. 17 Maret 2011 : 2 gempa Vulkanik A, 1 gempa Fase Banyak, 7 gempa Vulkanik B, 46 gempa Guguran, dan tremor menerus dengan amplituda maksimum 3 - 31 mm. 18 Maret 2011 : - Pukul 00:00 – 06:00 WITA. Terekam 3 kali gempa awan panas guguran dengan amplituda maksimum 46-50 mm, lama gempa 117 – 29 detik, 16 kali gempa guguran dengan amplituda maksimum 3 – 27 mm, lama gempa 65 detik, 3 kali gempa vulkanik dangkal (VB) dengan amplituda maksimum 8 mm, lama gempa 3 detik, 3 kali gempa vulkanik dalam (VA) dengan amplituda maksimum 25 mm, S-P 1 detik dan lama gempa 20 detik, Tremor dengan amplituda maksimum 3 – 30mm (pkl. 00.00-03.40), dengan amplituda maksimum 0.5-1 mm (pkl. 03.40-06.00). - Pukul 06:00 – 12:00 WITA. Terekam 6 kali gempa awan panas guguran dengan amplituda maksimum 49 mm, lama gempa 160 detik, 15 kali gempa guguran dengan amplituda maksimum 5 – 30 mm, lama gempa 50-80 detik, 1 kali gempa fase banyak dengan amplituda maksimum 5 mm, lama gempa 20 detik. Tremor dengan amplituda maksimum 0.5 mm (pkl. 06.00-08.26), dengan amplituda maksimum 3 – 44 mm (pkl. 08.26-12.00). - Pukul 12:00 – 15:30 WITA, Terekam 6 kali gempa awan panas dengan amplituda maksimum 49 mm, dan lama gempa 300 detik, serta getaran Tremor menerus dengan amplituda maksimum 5 – 40 mm. II. VISUAL Dalam kurun waktu 12 - 16 Maret 2011 cuaca umumnya mendung sampai gerimis. Teramati kepulan asap dari Kawah Utama berwarna kebiruan dengan tinggi 50 - 150 m. Sinar api teramati setinggi 10 m. Tidak teramati adanya asap dari Kawah Selatan. 17 Maret 2011, teramati adanya leleran lava lk. 1500 m dari Kawah Utama. Guguran lava dari ujung aliran lava tersebut terjadi ke arah K. Nanitu dan Pangi lk. 1500-2000 m, dan ke arah K. Beha Barat lk. 1500 m. Guguran lava disertai suara gemuruh dan dentuman intensitas sedang. Tanggal 18 Maret 2011 Pukul 00:00 – 06:00 WITA, Cuaca cerah, angin tenang, Kawah Utama teramati asap putih kebiruan sedang dengan tinggi lk. 150 - 200 meter. Sinar api tinggi lk. 50 – 150 m. Leleran lava mencapai 1500 m dari puncak, dari ujung leleran terjadi gugguran lava pijar ke Kali Pangi dan Kali Nanitu sejauh 500 m. Guguran lava pijar dari puncak meluncur ke Kali Beha Barat sejauh 1500 m. Pukul 00:18 dan 04:16 WITA terjadi awan panas guguran ke Kali Pangi sejauh lk. 3800 m dari puncak. Pukul 06:00 – 12:00 WITA, Cuaca berawan, angin tenang, asap kawah Utama putih kebiruan tipis-sedang, lk 50-150 m. Leleran lava pijar lk. 1500 ke Kali Nanitu, dari ujung leleran terjadi guguran lava ke Kali Pangi dan Nanitu sejauh 500 m. Guguran lava pijar dari puncak terjadi ke Kali Beha Barat sejauh 1500 m. Awan panas terjadi 7 kali pada pukul 08:14, 08:17, 08:55, 09:20, 09:54, 10:44 dan 10:53 WITA ke Kali Pangi dan Kali Nanitu, luncuran hingga ke laut mengakibatkan jembatan hancur dan satu rumah terkena (terbakar). Suara gemuruh terdengar lemah. Dan saat ini terdapat 31 jiwa (masyarakat) yang terjebak diantara dua aliran awan panas (Kali Nanitu dan Kali Pangi). Pukul 12:00 – 15:30 WITA, Teramati 6 kali kejadian awan panas yang mengarah ke Kali Nanitu dan Kali Pangi, dengan jarak luncur mencapai 4000 m (hingga pantai) POTENSI BAHAYA Gunungapi Karangetang merupakan gunungapi paling aktif di Indonesia dengan seringnya mengalami kejadian erupsi setiap tahun. Karakteristik erupsinya berupa erupsi eksplosif tipe strombolian dan vulkanian serta pertumbuhan kubah lava yang sering diikuti oleh kejadian awan panas guguran. Bahaya G. Karangetang umumnya diakibatkan oleh awan panas guguran, guguran lava pijar dari kubah lava dan bahaya sekunder berupa lahar. Risiko bahaya semakin tinggi karena pulau Gunungapi memiliki jarak antara batas pantai dengan pusat erupsi hanya lebih kurang 4 Km yang didalamnya terdapat banyak pemukiman III. KESIMPULAN Aktifitas Gunungapi Karangetang mengalami peningkatan baik secara visual maupun kegempaan. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa data visual, kegempaan, dan potensi bahaya erupsi, maka terhitung 18 Maret 2011 pukul 16.45 WITA, Status kegiatan G. Karangetang dinaikkan dari SIAGA(Level III) menjadi AWAS (Level IV). Tim Tanggap Darurat telah berada di lapangan guna mengevaluasi kegiatan G. Karangetang secara intensif dan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat. Status kegiatan G. Karangetang akan dinaikkan/diturunkan jika terjadi peningkatan/penurunan aktivitas. IV. REKOMENDASI Sehubungan dengan status G. Karanegatang dalam keadaan AWAS (Level IV), maka direkomendasikan : Penduduk di sekitar lereng G. Karangetang dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak G. Karangetang Mewaspadai luncuran awan panas dan guguran lava pijar yang dapat terjadi setiap saat pada lembah sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang, terutama ke Kali Nanitu, Kali Pangi dan Kali Beha Barat. Penduduk yang berada di Kampung Kinali, Mini dan Winangun agar dievakuasi ketempat yang aman. Penduduk yang tinggal disekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak G. Karangetang selama musim hujan agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar hujan dan banjir bandang. Masyarakat di sekitar G. Karangetang diharap tenang, tidak terpancing isyu-isyu tentang letusan G. Karangetang dan harap selalu mengikuti arahan dari BPBD Kabupaten Sitaro. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (Badan Geologi) selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.dan Pemerintah Kabupaten Sitaro tentang aktivitas G. Karangetang. Jika terjadi hujan abu cukup deras, direkomendasikan mesyarakat menggunakan masker penutup hidung dan mulut, karena abu vulkanik yang terhirup dapat mengganggu saluran pernapasan. Pemerintah Daerah senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Karangetang di Desa Salili, Kecamatan Siau Tengah, Kabupaten Sitaro atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Air Putih

Air Putih

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Your experience on this site will be improved by allowing cookies Cookie Policy