Bagaimana Persiapan Warga Lereng Merapi ?
    IND | ENG

Bagaimana Persiapan Warga Lereng Merapi ?

By : Hana 07 Desember 2006 News Categori : Uncategorized

Kamis, 07 Desember 2006 16:58:51 Banjir Lahar Dingin Mengancam, Bagaimana Persiapan Warga Lereng Merapi? Kategori: Gunungapi (256 kali dibaca) Bangun Gubuk untuk Pos Pemantauan, Siapkan Alat Penerangan Ancaman bencana berupa banjir lahar dingin kini mengancam Sleman, terutama warga yang tinggal di sepanjang sungai berhulu di Gunung Merapi. Jutaan kubik material hasil erupsi gunung api teraktif di dunia bulan Juni lalu, sewaktu-waktu bisa menerjang mereka. Berbagai persiapan kini dilakukan warga, agar terhindar dari bencana sekunder Merapi ini. SYUKRON MUTTAQIEN, Sleman Gubuk ini memang tidak istimewa. Hanya disangga empat batang bambu, gubuk berukuran 2 x 3 meter itu berdiri di pinggir Kali Gendol. Dua buah terpal disambung untuk menutup bagian atas dan samping gubuk. Di dalam gubuk dengan tinggi satua meter ini, terdapat selembar tikar yang sudah agak kusam. Sebuah tangga yang juga terbuat dari bambu terikat cukup kuat di bagian belakang gubuk. Memang gubuk ini hanya gubuk reot yang tidak cukup kuat. Namun, gubuk yang dibangun atas swadaya masyarakat itu mempunyai peran cukup penting. Di gubuk ini, setiap hari warga di sekitar Kali Gendol memantau kondisi sungai. Setiap hari, minimal tiga orang jaga secara bergantian untuk mengawai mengawasi perkembangan aliran sungai. Sedikitnya ada lima gubuk yang dinamai pos pemantauan di sepanjang Kali Gendol. Yakni di Kaliadem, Jambu, Kopeng, Batur dan Manggong. Sedang di Kali Opak, ada empat gubuk, yakni dua di Kaliadem, kemudian di Petung dan Pagerjurang. Semuanya masuka awilayah Kecamatan Cangkringan. Santi Minarto, warga Panggang, Batur, Kepuharjo, Cangkringan, menjelaskan, gubuk itu sengaja dibangun untuk pos pemantauan. Setiap kali terjadi tanda-tanda hujan di puncak, ia dan warga lain langsung menuju gubuk ini. "Begitu juga dengan warga di desa lain. Mereka akan menuju pos pemantauan untuk melihat kondisi sungai. Jika berbahaya bagi penduduk, maka kemudian diinformasikan ke warga lain agar mengambil tindakan yang diperlukan," ujar Santi yang ditemui saat berada di pos pemantauan Panggang. Pos ini tepat di belakang rumahnya di atas cekdam GE-IV. Pos ini ia bangun dengan swadaya sendiri. Ia butuh sekitar 10 batang bambu guna membangun posko. Waktu perngerjaannya juga hanya satu hari. "Walaupun seadaanya, gubuk ini cukup bermanfaat. Kemarin ketika ada hujan di puncak, kami bisa memberikan peringatan kepada para pekerja yang sedang membangun cekdam," katanya. Hanya, saat ini posko masih memilik kendala komunikasi. Setiap kali terjadi bahaya, ia hanya memberikan informasi lewat tepukan tangan dan teriakan. "Sebenarnya jika ada HT (handy talky), informasi akan cepat tersampaikan. Karena dari sini, puncak gunung sangat kelihatan," ujarnya sambil menunjuk puncak Merapi. Lain Kepuharjo, lain pula di Sindumartani. Untuk mengantisipasi bahaya banjir lahar dingin, warga di Dusun Morangan, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, mulai menyiapkan berbagai peralatan penerangan, seperti lampu petromak, senter dan obor. "Ini untuk jaga-jaga kalau sewaktu-waktu listrik mati," kata Hadi, warga setempat. ***(SYUKRON MUTTAQIEN, Sleman)   Sumber: radar jogja

© Airputih.or.id. All rights reserved.